“Sebuah
Prolog
……………………………tentang
Hujan”
Entah
karena kehilanga kesadaran, atau antara bingung dan lapar, dan deresnya hujan,
kata itu terucap begitu saja ketika kau lewat dengan tangan kiri membawa sebuah
payung. “Bolehkah aku ikut” sungguh tak ada pikiran sebelumnya mengeluarkan
kata-kata ini ketika kau berlalu dan kemudian berbalik arah dan menghiraukan
ku. “iya, bolehkan?” kataku, dan kau mengiyakan. Dengan ragu ku langkahkan
kakiku melewati genangan air yang mebentuk sungai kecil berwarna kecoklatan
menuju payung yang telah kau pegang. Aku masih belum sadar.
Hingga kau memulai
percakapan, “buru-buru pulang?” `pertanyaan pertama yang kau tanyakan. “iya,
gak bawa mukena” jawabanku dengan otak yang bekerja seadanya. Sampai pada jalan
dengan genangan air yang cukup dalam dan kau biasa saja melangkah membiarkan
sepatu hitammu menjadi basah, kini dengan setengah sadar kutarik tanganmu dan
berpikir kembali untuk menyelamkan sepatu pink kesukaanku ke dalam genangan air
kecoklatan yang membentuk arus kecil tepat satu langkah di depan kita. Saat
itulah aku berubah, sadar betapa salah tingkahnya aku.
“Satu-satunya
yang kutakutkan adalah jika kau memandangku menjadi hawa yang mencoba merayu
adam seperti versi sebuah novel tentang hubungan dua manusia itu”
Hingga kita berpisah
dengan kata maaf darimu dan terimakasih dari ku. Kau berlalu, sementara aku
berlari dan mecoba secepat mungkin kembali ke kotak kecil hangat di jalan
bendungan di balik gang-gang kecil. Aku masih setengah sadar, mencoba mengingat
kembali saat kau datang dengan payung ditangan kirimu, kali ini dengan mencoba
mengingat kembali raut wajah mu seperti memainkan sebuah reka ulang dengan
suasana hujan deras didepan taman kampus sore itu. Dan kenapa pula kesimpulan
yang dapat kutarik adalah saat kau muncul ada senyum diwajahmu, atau mungkin kau
selalu tersenyum setiap kali kau berlalu di depan siapapun. Entahlah, yang
penting kau tersenyum, ah tapi mungkin juga tidak.
Dan di penghujung hari
ini, kau tahu apa yang kupikirkan ? Betapa bodohnya aku bertingkah seperti
gadis manja yang takut dengan hujan dan genangan air cokelat di hadapan mu,
walaupun ku akui aku sangat menyayangi sepatu-sepatu itu “I am so sorry my shoes” inilah kata-kata tersisa di langkah
terburu-buru ku menuju kotak hangat di jalan bendungan dengan tentunya lebih
sering memikirkan ketidakrasionalan kelakuanku sejak membuat kau terpaksa
berbalik dan memberi bantuan. Atau mungkin aku memanng gadis manja.
Dan hujan pun berlalu
menjadi gerimis kecil di atas langit yang mulai ditinggalkan matahari, ku
berterimakasih karena kau telah menjawab pertanyaanku dengan sangat bersahabat.
Good things will happen to you, I am sorry, I don’t even know your name yet.
Entah,
kau yang datang karena hujan atau sebaliknya.Lain kali akan ku bawa payung
sendiri.
Berkesan banget memang... :3
BalasHapusnever again , , , , hahahaha. . . .:D
BalasHapus