Halaman

Senin, 09 Desember 2013

Prolog

“Sebuah Prolog
……………………………tentang Hujan”
Entah karena kehilanga kesadaran, atau antara bingung dan lapar, dan deresnya hujan, kata itu terucap begitu saja ketika kau lewat dengan tangan kiri membawa sebuah payung. “Bolehkah aku ikut” sungguh tak ada pikiran sebelumnya mengeluarkan kata-kata ini ketika kau berlalu dan kemudian berbalik arah dan menghiraukan ku. “iya, bolehkan?” kataku, dan kau mengiyakan. Dengan ragu ku langkahkan kakiku melewati genangan air yang mebentuk sungai kecil berwarna kecoklatan menuju payung yang telah kau pegang. Aku masih belum sadar.
Hingga kau memulai percakapan, “buru-buru pulang?” `pertanyaan pertama yang kau tanyakan. “iya, gak bawa mukena” jawabanku dengan otak yang bekerja seadanya. Sampai pada jalan dengan genangan air yang cukup dalam dan kau biasa saja melangkah membiarkan sepatu hitammu menjadi basah, kini dengan setengah sadar kutarik tanganmu dan berpikir kembali untuk menyelamkan sepatu pink kesukaanku ke dalam genangan air kecoklatan yang membentuk arus kecil tepat satu langkah di depan kita. Saat itulah aku berubah, sadar betapa salah tingkahnya aku.
“Satu-satunya yang kutakutkan adalah jika kau memandangku menjadi hawa yang mencoba merayu adam seperti versi sebuah novel tentang hubungan dua manusia itu”
Hingga kita berpisah dengan kata maaf darimu dan terimakasih dari ku. Kau berlalu, sementara aku berlari dan mecoba secepat mungkin kembali ke kotak kecil hangat di jalan bendungan di balik gang-gang kecil. Aku masih setengah sadar, mencoba mengingat kembali saat kau datang dengan payung ditangan kirimu, kali ini dengan mencoba mengingat kembali raut wajah mu seperti memainkan sebuah reka ulang dengan suasana hujan deras didepan taman kampus sore itu. Dan kenapa pula kesimpulan yang dapat kutarik adalah saat kau muncul ada senyum diwajahmu, atau mungkin kau selalu tersenyum setiap kali kau berlalu di depan siapapun. Entahlah, yang penting kau tersenyum, ah tapi mungkin juga tidak.
Dan di penghujung hari ini, kau tahu apa yang kupikirkan ? Betapa bodohnya aku bertingkah seperti gadis manja yang takut dengan hujan dan genangan air cokelat di hadapan mu, walaupun ku akui aku sangat menyayangi sepatu-sepatu itu “I am so sorry my shoes” inilah kata-kata tersisa di langkah terburu-buru ku menuju kotak hangat di jalan bendungan dengan tentunya lebih sering memikirkan ketidakrasionalan kelakuanku sejak membuat kau terpaksa berbalik dan memberi bantuan. Atau mungkin aku memanng gadis manja.
Dan hujan pun berlalu menjadi gerimis kecil di atas langit yang mulai ditinggalkan matahari, ku berterimakasih karena kau telah menjawab pertanyaanku dengan sangat bersahabat. Good things will happen to you, I am sorry, I don’t even know your name yet.

Entah, kau yang datang karena hujan atau sebaliknya.Lain kali akan ku bawa payung sendiri.

2 komentar: