tangan waktu
Sapardi Djoko Damono
(1959)
selalu terulur
ia lewat jendela
yang panjang dan
menakutkan
selagi engkau
bekerja, atau mimpi pun
tanpa berkata
suatu apa
bila saja
kautanya: mau apa
berarti terlalu
jauh kau sudah terbawa
sebelum sungguh
menjadi sadar
bahwa sudah
terlanjur terlantar
belum pernah ia
minta izin
memutar
jarum-jarum jam tua
yang segera
tergesa-gesa saja berdetak
tanpa menoleh
walau kauseru
selalu terulur
ia lewat jendela
yang makin keras
dalam pengalaman
mengarah padamu
tambah tak tahu
memegang leher
bajumu
First
page of this book really great for me, for a new reader of poem. Actually,
there is no planning to buy this book, but my heart just pushes me to buy it, wanna
get new experiences in reading. Reading a poem is like a relaxation, you are
drowning into words, where there is no character, no real plot, no dialogue
between the characters, there is just you and the writer. The words means so
much, it is like catching you to a condition of feeling, emotions.
Sapardi
Joko Damono, never knew this person before till read the poem on “Hujan Bulan
Juni”. He tells his idea and his emotions really free but beautiful and honest.
Really honest.
He
drowning me into every emotions . . . “emosi yang jujur”
He
tells the emotions really beautiful, sometime make me scared. He tells about
how his emotions to the Creature, to the death, and also about romance and
love. Like this one:
Aku Ingin
Sapardi Djoko Damono (1989)
Aku ingin mencintaimu dengan
sederhana:
Dengan kata yang tak sempat
diucapkan
Kayu kepada api yang
menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan
sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat
disampaikan
Awan kepada hujan yang
menjadikannya tiada
Well, speechless
with this one.
Actually, before Sapardi
Djoko Damono, when I was in Senior High School, I was falling in love with Shoe
Hok Gie with his poem before he dead:
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke
Mekkah,
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza,
Tetapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu sayang ku….
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza,
Tetapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu sayang ku….
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi
Ada
serdadu-serdadu Amerika
yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisi mu manisku
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisi mu manisku
Setelah
kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang menang
Kalian yang pernah mesra yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang menang
Kita
tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib
terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah
mereka yang mati muda
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu
(Catatan
Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)
But,
actually, , ,I have not finished read Catatan Seorang Demonstran yet, I hope
someday (dalam waktu dekat,hee) I can finish it, and post about you Gie (jadi
keinget Nicholas Saputra). This poem I write many times in my diary when I was
in Senior High School.
Gie,
Rest in Peace. You never alone, never.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar