Halaman

Kamis, 02 Januari 2014

I LOVE POEM :)



tangan waktu
Sapardi Djoko Damono (1959)

selalu terulur ia lewat jendela
yang panjang dan menakutkan
selagi engkau bekerja, atau mimpi pun
tanpa berkata suatu apa

bila saja kautanya: mau apa
berarti terlalu jauh kau sudah terbawa
sebelum sungguh menjadi sadar
bahwa sudah terlanjur terlantar

belum pernah ia minta izin
memutar jarum-jarum jam tua
yang segera tergesa-gesa saja berdetak
tanpa menoleh walau kauseru

selalu terulur ia lewat jendela
yang makin keras dalam pengalaman
mengarah padamu tambah tak tahu
memegang leher bajumu

First page of this book really great for me, for a new reader of poem. Actually, there is no planning to buy this book, but my heart just pushes me to buy it, wanna get new experiences in reading. Reading a poem is like a relaxation, you are drowning into words, where there is no character, no real plot, no dialogue between the characters, there is just you and the writer. The words means so much, it is like catching you to a condition of feeling, emotions.

Sapardi Joko Damono, never knew this person before till read the poem on “Hujan Bulan Juni”. He tells his idea and his emotions really free but beautiful and honest. Really honest.
He drowning me into every emotions . . . “emosi yang jujur”
He tells the emotions really beautiful, sometime make me scared. He tells about how his emotions to the Creature, to the death, and also about romance and love. Like this one:

Aku Ingin
Sapardi Djoko Damono (1989)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Well, speechless with this one.

Actually, before Sapardi Djoko Damono, when I was in Senior High School, I was falling in love with Shoe Hok Gie with his poem before he dead:

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah,
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza,
Tetapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu sayang ku….
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisi mu manisku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu
 
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang menang

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu
(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)

But, actually, , ,I have not finished read Catatan Seorang Demonstran yet, I hope someday (dalam waktu dekat,hee) I can finish it, and post about you Gie (jadi keinget Nicholas Saputra). This poem I write many times in my diary when I was in Senior High School.
Gie, Rest in Peace. You never alone, never.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar